Senin, 25 Oktober 2021

MAKALAH KEMAMPUAN MENYIMAK

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca.

Dalam dunia komunikasi, menyimak diakui sebagai suatu keahlian komunikasi verbal yang sulit dan unik dibandingkan dengan komunikasi verbal lainnya seperti berbicara, menulis, dan membaca. Ketika menyimak sesorang yang dituntut hanyalah mendengarkan dan memperhatikan pesan-pesan verbal dan non-verbal pembicara. Peristiwa menyimak selalu diawali dengan mendengarkan bunyi langsung yang ditangkap oleh telinga. Bunyi bahasa yang diterima kemudian diinterpretasikan maknanya, ditelaah kebenarannya atau dinilai, lalu diambil kesimpulannya.

Pentingnya keterampilan menyimak dikembangkan karena proses mendengar belum tentu menymak. Yang harusnya memahami ide, gagasan, pendapat orang lain secara lisan. Keterampilan menyimak juga didasari mempelajari keterampilan bahasa. Meskipun secara garis besar menyimak mengambil aktivitas komunikasi, tetapi masih kurang efektif.

B.      Rumusan Masalah

                                                            a)      Apa itu kemampuan menyimak?

                                                            b)      bagaimana sifat-sifat kemampuan menyimak?

                                                            c)      apa saja unsur kemampuan menyimak?

C.     Tujuan

Mengetahui cara menyimak, menyimak dengan menelaah dan berkomunikasi dengan baik, berkegiatan berbahasa dengan menyimak dan membuat kesimpualan.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Menyimak

Tarigan (1985: 19), mengatakan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan, sedangkan Haryadi dan Zamzani (1996: 21), mengatakan bahwa menyimak adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan bunyi bahasa sebagai sasarannya dan untuk memahami isi yang disampaikan bunyi tersebut.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan bunyi baik bunyi nonbahasa dan bunyi bahasa dengan penuh pemahaman, perhatian, apresiasi, serta interprestasi, dengan menggunakan aktivitas telinga dalam menangkap pesan yang diperdengarkan untuk memperoleh informasi dan memahami isi yang disampaikan bunyi tersebut.

Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Di dalam proses menyimak itu terdapat tahap – tahap yang dilakukan, yaitu tahap mendengar, tahap memahami, tahap menginterprestasi, tahap mengevaluasi dan tahap menanggapi.

Peristiwa meyimak diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau melalui rekaman radio, telepon, atau televisi. Bunyi bahasa yang diterima kemudian ditafsirkan maknanya, dinilai kebenarannya agar dapat diputuskan diterima tidaknya.

 

B.     Tujuan Menyimak

Tarigan (1990: 22), mengatakan bahwa menyimak memiliki beberapa tujuan, sebagai berikut:

1)      Mendapatkan fakta

Pengumpulan fakta dapat dilakukan dengan berbagai cara. Para peneliti mengumpulkan atau mendapatkan fakta melalui kegiatan penelitian, riset atau eksperimen. Pengumpulan fakta seperti cara ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Bagi rakyat biasa hal itu jarang atau hampir-hampir tidak dapat dilakukan. Cara lain yang dapat dilakukan dalam pengumpulan fakta ialah melalui membaca. Orang-orang terpelajar sering mendapatkan fakta melakui kegiatan membaca seperti membaca buku-buku ilmu pengetahuan, laporan penelitian, makalah hasil seminar,majalah ilmiah, dan populer, surat kabar, dan sebagainya. Dalam masyarakat tradisional pengumpulan fakta melalui menyimak tersebut banyak sekali digunakan. Dalam masyarakat moderen pun pengumpulan fakta melalui menyimak itu masih banyak digunakan. Kegiatan pengumpulan fakta atau informasi melalui menyimak dapat berwujud dalam berbagai variasi. Misalnya mendengarkan radio, televisi, penyampaian makalah dalam seminar, pidato ilmiah, percakapan dalam keluarga, percakapan dengan tetangga, percakapan dengan teman sekerja, sekelas dan sebagainya.

 

2)      Menganalisis fakta

Fakta atau informasi yang telah terkumpul perlu dianalisis. Harus jelas kaitan antar unsur fakta, sebab dan akibat apa yang terkandung di dalamnya. Apa yang disampaikan pembicara harus dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman menyimak dalam bidang yang relevan. Proses analisis fakta ini harus berlangsung secara konsisten dari saat ke saat selama proses menyimak berlangsung. Waktu untuk menganalisis fakta itu cukup tersedia asal penyimak dapat menggunakan waktu ekstra. Yang dimaksud waktu ekstra, adalah selisih kecepatan pembicaraan 120 – 150 kata per menit dengan kecepatan berpikir menyimak sekitar 300 – 500 kata per menit. Analisis kata sangat penting dan merupakan landasan bagi penilaian fakta.

 

3)      Mengevaluasi fakta

Dalam situasi ini penyimak sering mengajukan sejumlah pertanyaan seperti berikut: 1) Benarkah fakta yang diajukan? 2) Relevankah fakta yang diajukan? 3) Akuratkah fakta yang disampaikan? Apabila fakta yang disampaikan pembicara sesuai dengan kenyataan, pengalaman dan pengetahuan penyimak maka fakta itu dapat diterima. Sebaliknya bila fakta yang disampaikan kurang akurat atau kurang relevan, atau kurang meyakinkan kebenarannya maka penyimak pantas meragukan fakta tersebut. Hasil pengevaluasian fakta-fakta ini akan berpengaruh kepada kredibilitas isi pembicaraan dan pembicaranya. Setelah selesai mengevaluasi biasanya penyimak akan mengambil simpulan apa isi pembicaraan pantas diterima atau ditolak.

 

4)      Mendapatkan inspirasi

Adakalanya orang menghadiri suatu konvensi, pertemuan ilmiah atau jamuan tertentu, bukan untuk mencari atau mendapatkan fakta. Seseorang menyimak pembicaraan orang lain semata-mata untuk tujuan mencari ilham. Penyimak seperti ini biasanya orang yang tidak memerlukan fakta baru. Yang diperlukan seorang penyimak adalah sugesti, dorongan, suntikan semangat, atau inspirasi guna pemecahan masalah yang sedang mereka hadapi.

 

5)      Menghibur diri

Sejumlah penyimak datang menghadiri pertunjukan seperti bioskop, sandiwara, atau percakapan untuk menghibur diri, karena orang tersebut sudah lelah letih dan jenuh. Seseorang perlu penyegaran fisik dan mental agar kondisinya pulih. Hal tersebut itulah seseorang untuk tujuan menghibur diri. Misalnya menyimak pembicaraan cerita-cerita lucu, menonton pertunjukan yang kocak seperti yang dibawakan Grup Opera Van Java.

 

6)      Meningkatkan kemampuan berbicara

Dalam hal ini penyimak memperhatikan seseorang pembicara pada segi (1) cara mengorganisasikan bahan pembicaraan, (2) cara penyampaian bahan pembicaraan, (3) cara memikat perhatian pendengar, (4) cara mengarahkan perhatian pendengar, (5) cara menggunakan alat-alat bantu seperti mikrofon, alat peraga dan sebagainya, dan (6) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan. Semua hal tersebut diperhatikan oleh penyimak dan kemudian dipraktikkan. Menyimak yang seperti inilah yang disebut menyimak untuk tujuan peningkatan kemampuan berbicara. Cara menyimak untuk tujuan peningkatan kemampuan berbicara biasanya dilakukan oleh mereka yang baru belajar menjadi orator dan yang mau menjadi profesional dalam membawa acara.

Sedangkan Lilian M. Logan (Nur Amalina, 2012), menyatakan bahwa tujuan menyimak sebagai berikut:

1)      Untuk dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran pembicara, dengan kata lain menyimak untuk belajar.

2)      Untuk menikmati terhadap sesuatu materi ujaran, terutama pada bidang seni, dengan perkataan lain menyimak untuk menikmati keindahan audial.

3)      Untuk menilai bahan simakan (baik-buruk, indah-jelek, tepat, asal-asalan, logis-tak logis, dan sebagainya).

4)      Untuk dapat menikmati dan menghargai bahan simakan (penyimak cerita, puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi, dan sebagainya), dengan perkataan lain menyimak untuk evaluasi.

5)      Untuk dapat mengkomunikasikan gagasan-gagasan, ide-ide, perasaanperasaan kepada orang lain dengan lancar dan tepat. Dengan kata lain, menyimak sebagai penunjang dalam mengkomunikasikan idea tau gagasan sendiri.

6)      Untuk dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat, bunyi yang distingtif ( membedakan arti) dan bunyi mana yang tidak distingtif. Ini biasanya diperoleh dari native speaker pembicara asli).

7)      Untuk dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analitis dengan masukan dari bahan simakan.

8)      Untuk dapat meyakinakan diri sendiri terhadap suatu masalah atau pendapat yang diragukan, dengan perkataan lain menyimak persuasif

 

C.    Proses Menyimak

Tarigan (Haryadi dan Zamzani, 1996: 22), mengemukakan ada lima tahap dalam proses menyimak, sebagai berikut:

1)      Tahap mendengarkan

Dalam tahap ini siswa mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh guru dalam pembicaraannya.

2)      Tahap mengidentifikasi

Dalam tahap ini, siswa mengidentifikasi dari cerita yang telah disimaknya.

3)      Tahap menginterprestasi atau menafsirkan

Dalam tahap ini, siswa menafsirkan isi dengan cermat dan teliti dari cerita yang telah disimaknya.

4)      Tahap memahami

Dalam tahap ini siswa mengerti dengan baik, dari isi pembicaraan yang disampaikan oleh guru.

5)      Tahap menilai

Dalam tahap ini siswa menilai atau memberikan pendapat dan gagasan, keunggulan dan kelemahan, serta kebaikan dan kekurangan dari guru.

6)      Tahap menanggapi atau mereaksi

Tahap ini meruapakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak

 

 

D.    Jenis – jenis menyimak

1.      Menyimak Berdasarkan Tujuan

Menyimak berdasarkan tujuan memiliki banyak jenis bergantung apa yang ingin dicapai dari kegiatan menyimak tersebut. Secara garis besar, menyimak berdasarkan tujuan dapat dibedakan menjadi sebagai berikut.

a)      Menyimak untuk Belajar

Menyimak untuk belajar umumnya dilakukan di sekolah, kampus, atau tempat kursus. Namun, perlu Anda ketahui bahwa belajar tidak hanya dilakukan dalam situasi formal, tetapi dapat juga dilakukan dalam situasi nonformal. Dalam hal ini menyimak untuk belajar dapat diartikan sebagai menyimak untuk memperoleh pengetahuan secara formal maupun nonformal. Anda tentu tahu, di mana saja kita dapat memperoleh pengetahuan secara nonformal dan media-media yang dapat membantu kita dalam rangka memperoleh pengetahuan secara nonformal melalui kegiatan menyimak.

 

b)      Menyimak untuk Hiburan

Menyimak untuk hiburan mendapat penekanan pada objek atau bahan simakan. Jenis menyimak ini berhubungan dengan dunia pertunjukan. Tujuan dari kegiatan menyimak jenis ini adalah untuk memperoleh hiburan dan menghilangkan rasa jenuh atau kebosanan dari rutinitas sehari-hari. Bahan simakan dapat berupa seni pertunjukan, seperti kesenian tradisional (wayang, lenong, ketoprak), dapat juga seni sastra (cerita atau drama), seni lawak atau humor. Bahan-bahan simakan ini selain dapat disimak melalui media elektronik, seperti radio atau kaset rekaman, dapat juga disimak melalui pertunjukan yang disaksikan langsung di suatu arena atau ditonton melalui media televisi atau VCD. Dengan demikian, menyimak jenis ini (menyimak hiburan) banyak dibantu oleh media visual.

 

c)      Menyimak untuk Menilai

Menyimak yang bertujuan untuk menilai banyak dilakukan oleh para juri. Dalam hal ini, penyimak melakukan tugasnya sebagai juri suatu perlombaan yang biasanya berhubungan dengan bahasa, seperti lomba pidato, membaca puisi, membaca Alquran, dan dapat juga lomba menyanyi. Dalam menilai, penyimak yang bertugas menjadi juri memegang pedoman penilaian yang berisi kriteria-kriteria yang dinilai. Misalnya, kejelasan lafal, intonasi, irama, dan penghayatan.

 

d)      Menyimak untuk Mengapresiasi

Menyimak jenis ini mirip dengan menyimak untuk hiburan, namun pada menyimak jenis ini ada nilai tambahnya, yaitu penyimak dapat menyertakan perasaannya pada hal-hal yang disimak. Artinya, penyimak dapat berada di dalam peristiwa atau bahan yang disimaknya. Jika seseorang menyimak sebuah drama radio, dia merasakan seakan-akan dia yang menjadi salah satu tokoh drama tersebut. Penyimak dapat merasa gembira, sedih, atau mungkin marah sesuai situasi atau suasana yang ada dalam drama. Setelah drama berakhir, penyimak memberi penilaian terhadap drama yang disimaknya. Benar tidaknya penilaian yang diberikan bergantung pada pengetahuan penyimak terhadap drama.

 

e)      Menyimak untuk Memecahkan Masalah

Menyimak dengan tujuan memecahkan masalah dapat berujung pada menyimak untuk memperoleh informasi yang berdampak pada pemecahan suatu masalah. Pada menyimak jenis ini, seseorang sengaja memilih bahan simakan dan melakukan kegiatan menyimak dalam rangka memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Misal, Bu Ines ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan Quantum Teaching yang sedang ramai dibicarakan orang-orang di kalangan pendidikan. Pada suatu ketika sebuah lembaga mengadakan seminar dengan topik tersebut, Bu Ines tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia lalu mengikuti seminar tersebut. Bu Ines menyimak dengan baik penyajian yang disampaikan oleh pemakalah tentang Quantum Teaching. Setelah memperoleh informasi tersebut, masalah yang dihadapi Bu Ines selama ini tentang Quantum Teaching telah terpecahkan.

 

2.      Menyimak berdasarkan intensitas

Secara umum menyimak bertujuan untuk menangkap pesan atau menangkap isi serta memahami makna komunikasi yang disampaikan pembicara melalui ujaran. Menyimak berdasarkan intensitas dapat dbedaka menjadi sebagai berikut

a)      Menyimak Ekstensif Menyimak jenis ini (extensive listening) merupakan kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat umum dan tidak diperlukan bimbingan langsung dari seorang guru. Dalam menyimak ekstensif ini, penyimak hanya menyimak bagian-bagian yang penting saja, secara umum, sepintas, dan garis-garis besarnya saja. Untuk lebih jelasnya pahamilah penjelasan mengenai jenis-jenis menyimak ekstensif berikut ini.

1)      Menyimak sekunder

Menyimak sekunder adalah jenis kegiatan menyimak yang dilakukan pada saat atau bersamaan dengan kegiatan lain. Menyimak sekunder sama dengan kegiatan mendengarkan. Misalnya, Dita menyimak lagu-lagu yang ditayangkan televisi dalam acara Pesta, sementara dia sedang mengerjakan tugas sekolah, yaitu menyusun kliping. Dalam hal ini keduanya (menyusun kliping dan menyimak lagu-lagu) berjalan seiring.

2)      Menyimak pasif

Menyimak pasif mirip dengan menyimak sekunder, yaitu menyimak sambil melakukan pekerjaan lain. Contoh kegiatan menyimak pasif ini sering kita temukan pada kebiasaan anak-anak dewasa ini, yaitu belajar sambil mendengarkan siaran radio. Apabila siaran radio menarik perhatiannya maka perhatian mereka berubah dari buku pelajaran ke siaran radio. Pada menyimak pasif, perhatian dapat beralih sepenuhnya dari satu kegiatan (membaca, menulis, atau yang lainnya) ke kegiatan lain yang lebih menarik perhatiannya.

3)      Menyimak estetis

Menyimak jenis ini disebut juga dengan menyimak apresiatif (appreciation listening). Dalam menyimak estetis penyimak secara serius dan bersungguh-sungguh memperhatikan suatu acara atau pertunjukan drama, cerita, dongeng, puisi atau hiburan-hiburan lain yang sejenis baik secara langsung maupun melalui siaran televisi atau radio. Secara imajinatif, penyimak ikut terlibat, mengalami, melakukan, dan merasakan karakter dari setiap pelaku.

b)      Menyimak Intensif

Menyimak intensif merupakan suatu kegiatan yang berbeda atau bertolak belakang dengan menyimak ekstensif. Apabila pada menyimak ekstensif bahan simakan hanya dipahami garis-garis besarnya saja dan bersifat sepintas sehingga tidak memerlukan bimbingan guru maka menyimak intensif justru sebaliknya. Dalam menyimak intensif, penyimak memerlukan arahan dan bimbingan yang ketat karena bahan-bahan yang harus disimak perlu dipahami secara terperinci, teliti, dan mendalam. Menyimak intensif terbagi menjadi tiga bagian yaitu:

4)      Menyimak Kritis

Menyimak kritis adalah kegiatan menyimak yang dilakukan secara kritis, di dalamnya terlihat adanya kehadiran prasangka yang berperan sebagai pijakan dalam mengamati ketidaktelitian yang dilakukan pembicara dalam menyampaikan data dan fakta yang memperkuat ide atau gagasannya. Menyimak dengan cara ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang akurat tentang sesuatu sehingga menghasilkan satu kesimpulan. Jadi, penyimak menilai segala apa yang digagaskan, diidekan, atau diinformasikan pembicara sampai pada tingkat keterpercayaan (reliabilitas), keterandalan (validitas), dan kebermanfaatan sebuah informasi. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam menyimak kritis, yaitu: 1) memperhatikan kebiasaan-kebiasaan ujaran, kata, pemakaian kata, dan unsur-unsur kalimat; 2) menyimak untuk menentukan alasan “mengapa”; 3) menyimak untuk membedakan antara fakta dan fantasi antara yang berelevansi dan tidak berelevansi; 4) menyimak untuk menarik kesimpulan-kesimpulan; 5) menyimak untuk membuat keputusan-keputusan.

5)      Menyimak konsentratif

Menyimak konsentratif sering juga disebut a study type listening atau menyimak sebagai kegiatan menelaah. Satu fase dari kegiatan menyimak yang baik adalah perlunya konsentrasi terhadap apa yang disimak, supaya dapat menangkap hal-hal tersebut baik dalam bentuk informasi maupun dalam bentuk lain, tumpuan ke arah itu tidak menyimpang dari isi atau ide yang sebenarnya. Adapun kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam menyimak konsentratif ini adalah: 1) menyimak untuk mengikuti petunjuk-petunjuk; 2) menyimak demi suatu maksud tertentu untuk memperoleh butir-butir informasi tertentu; 3) menyimak urutan ide-ide; 4) menyimak fakta-fakta.

6)      Menyimak Kreatif

Menyimak kreatif mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang. Umumnya imajinasi berhubungan dengan keindahan, bunyibunyian, gerak-gerak tentang sesuatu, dan juga penglihatan terhadap sesuatu. Seseorang dapat menyimak sebuah puisi dengan baik karena ia berimajinasi/berfantasi, dan berpartisipasi dengan baik terhadap puisi yang sedang disimaknya sehingga ia dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi itu. Ada beberapa kegiatan yang tercakup dalam menyimak kreatif, antara lain yaitu: 1) menghubungkan atau mengasosiasikan makna-makna dengan bantuan pengetahuan dan pengalaman penyimak; 2) menyesuaikan atau mengadaptasikan imajinasi dengan pikiran imajinatif untuk menciptakan karya-karya atau hasil-hasil baru dalam tulisan, lukisan, pendramaan, dan bentuk-bentuk seni lain; 3) menyimak untuk mendapat penjelasan atau pemecahan masalah serta sekaligus memeriksa dan menguji hasil-hasil pemecahan masalah tersebut.

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan bunyi baik bunyi nonbahasa dan bunyi bahasa dengan penuh pemahaman, perhatian, apresiasi, serta interprestasi, dengan menggunakan aktivitas telinga dalam menangkap pesan yang diperdengarkan untuk memperoleh informasi dan memahami isi yang disampaikan bunyi tersebut.

Di dalam proses menyimak itu terdapat tahap – tahap yang dilakukan, yaitu tahap mendengar, tahap memahami, tahap menginterprestasi, tahap mengevaluasi dan tahap menanggapi. Tujuan menyimak yaitu mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, menghibur diri, meningkatkan kemampuan berbicara.

Menyimak berdasarkan tujuan yaitu menyimak untuk belajar, menyimak untuk hiburan, menyimak untuk menilai, menyimak untuk mengoperasi, menyimak untuk memecahkan masalah. secara umum menyimak bertujuan untuk menangkao pesan atau menangkap isi serta memahami makna komunikasi yang disampaikan pembicara melalui ujaran diantaranya ada menyimak ekstensif dan menyimak intensif.

B.     SARAN

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis..

Pentingnya keterampilan menyimak dikembangkan karena proses mendengar belum tentu menymak. Yang harusnya memahami ide, gagasan, pendapat orang lain secara lisan. Keterampilan menyimak juga didasari mempelajari keterampilan bahasa. Meskipun secara garis besar menyimak mengambil aktivitas komunikasi, tetapi masih kurang efektif.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Juniati Lasma “Meningkatkan Keterampilan Menyimak pada Siswa Sekolah Dasar” https://www.academia.edu/41059958/strategi_keterampilan_menyimak.

Hamid, A (2019)  Strategi Keterampilan Menyimak, Jurnal keterampilan berbahasa.

https://www.academia.edu/8517003/Kemampuan_menyimak.

Setiawati Lis ”Hakikat menyimak” http://repository.ut.ac.id/4737/1/PBIN4105-M1.pdf  (diakses 2014)

MAKALAH ARTIKEL ILMIAH ANALISIS KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR DAN PELAKSANAANNYA DI LAPANGAN

 

Seiring berkembangnya zaman, sistem pendidikan pun mengalami perkembangan dan perubahan. Kurikulum 2013 atau Kurtilas merupakan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia saat ini. Sistem ini diberlakukan serentak oleh pemerintah di seluruh sekolah yang ada di Indonesia pada tahun 2018. Meskipun begitu, Kurtilas ini pernah mengalami beberapa kali revisi dalam masa uji coba dan saat ini masih dalam masa adaptasi. 

Kurikulum 2013 sangat berbeda jauh dengan Kurikulum sebelumnya dalam berbagai aspek. Sosialisasi Kurtilas sangat penting dilakukan, baik kepada guru ataupun kepada siswa. 

Perbedaan Kurikulum 2013  dengan Kurikulum sebelumnya, Kurikulum 2006 sangat terlihat jelas pada pendidikan Sekolah Dasar. Sebelumnya pengajaran sekolah dasar dibagi menjadi beberapa mata pelajaran. Dalam Kurikulum 2013, pengajaran  Sekolah Dasar dibagi menjadi beberapa tema. Setiap tema mengandung beberapa pelajaran seperti Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia. 

Tidak hanya sistem pengajarannya saja yang berbeda, sistem penilaian Kurtilas pun berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Sistem penilaian Kurikulum 2013 terbagi menjadi empat aspek, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan aspek perilaku. Hal tersebut membuat buku rapor hasil belajar siswa menjadi lebih tebal dibanding bukur rapor kurikulum sebelumnya. 

Sistem Kurikulum 2013 yang terbilang sedikit rumit membuat beberapa orang berpikir bahwa Kurikulum 2013 tidak efektif. Sistem ini mengharuskan setiap guru untuk memperhatikan secara intens setiap siswanya untuk mendapatkan penilaian yang sesuai. Hal ini sulit terlaksanakan apabila siswa dalam satu kelas terlampau banyak. Media yang kurang memadai pun menjadikan Kurtilas tidak efektif.

Kelemahan Kurikulum 2013 memang cukup banyak. Meskipun begitu, hal tersebut dapat ditangani apabila mengaplikasikan Kurtilas dengan cara yang tepat. ada banyak cara yang tepat untuk mengefektifkan Kurtilas. Dia menambahkan, dalam hal penilaian, jika seorang guru tidak dapat mengawas secara intens setiap siswa, guru dapat melibatkan orang ketiga seperti orang tua siswa, teman siswa, bahkan pedagang di sekitar sekolah dalam menilai perilaku siswa. 

Kendala media dalam Kurikulum 2013 pun bisa ditangani dengan cara yang tepat. Pemerintah sebenarnya sudah menyediakan dana untuk media Kurtilas di beberapa sekolah yang mudah terjangkau. Bagi beberapa sekolah yang medianya masih terbatas, media tersebut dapat digantikan dengan media buatan sendiri tergantung kreativitas guru yang mengajar. 

Adanya Kurikulum 2013 di Indonesia bertujuan agar pendidikan di Indonesia semakin maju. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mendukung Kurtilas meskipun terdapat banyak kelemahan dan ketidakefektifan sistem pendidikan ini. Semoga dengan berjalannya sistem pendidikan ini, Indonesia dapat mencetak lebih banyak generasi penerus bangsa yang lebih baik kedepannya.

Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, antara lain ingin mengubah pola pendidikan dari orientasi terhadap hasil dan materi kependidikan sebagai proses, melalui pendekatan tematik integratif. Oleh karena itu, dengan pembelajaran sebanyak mungkin melibatkan peserta didik, agar mereka mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali berbagai potensi, dan kebenaran secara ilmiah Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Sebagai titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 di lapangan. Kesemuanya ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak, apakah itu pemerintah daerah serta dukungan dari orang tua dan masyarakat. Implementasi Kurikulum 2013, dilaksanakan melalui Pendekatan Scientific. Pada pelaksanaannya pendekatan ini menekankan pada lima aspek penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar dan komunikasi. Lima aspek ini harus benar-benar terlihat pada pelaksanaan pembelajaran di lapangan.